Dinamika Kehidupan Budaya Bahari

  • Public
By blog/owner/ May 9, 2016

0/5 stars (0 votes)

Kesimpulan Kelompok 1A dan 1B
“Pengelolaan SDL Berwawasan Lingkungan”

Kelompok 1A
- Regenerasi sosial pikiran adalah satu gejala berubahnya struktur toleran dan arketipe budaya di dalam suatu bangsa
- Reparasi sosial budaya dipengaruhi sama factor privat, factor eksternal, dan factor yang menyendat
- Sumber daya bahari adalah sumber daya yang meliputi tempat yang luasnya mencakup sukma laut.
- Macam-macam sumber daya laut:
1. Sumber daya dapat pulih
2. Sumber kecakapan tidak sanggup pulih
3. Jasa-jasa daerah sekeliling kelautan
- Dinamika supel budaya suku terhadap pengelolaan SDL yaitu perubahan selengkapnya seperti motorisasi perahu nelayan yang menggantikan fungsi layar dan pengayuh, ada prosedur transformasi structural mengenai kelompok-kelompok kerja nelayan dan pelaut serta komposisi pemasaran, siap proses perkembangan internal laksana perubahan jenis bagang tancap ke bagang perahu, dan proses difusi (persebaran) yang mencolok

Kelompok 1B
- Indonesia mempunyai sumber kemampuan laut yang sangat melimpah
- Adanya pola dekstruktif dalam pengelolaan mengakibatkan kebinasaan sumber daya laut
- Indonesia belum dapat memerintah dan meniru sumber kemampuan laut mengacu pada maksimal karena kurangnya wawasan akan aplikasi teknologi
Di dalam upaya penjelasan dan pengelolaan sumber kecakapan laut diperlukan undang-undang dan hokum yang jelas dan tegas.

Pendapat Kelompok 2A dan 2B
“Aspek Histori Maritim”

Silsilah kerajaan maritime di Nusantara
1. Sriwijaya
Sriwijaya adalah kerajaan pantai dengan perdagangan Internasional melalui selat malaka. Zona utamanya yaitu ibukota muara dalam Palembang, lurah sungai musi, dan lingkungan muara-muara timpalan. Produk dr kerajaan sriwijaya yaitu pala, cengkeh, gading, timah, penyu, remah-remah, dll.
2. Majapahit
Kerajaan majapahit ada bertolak pada laut. Negara ini sejajar negara agraris yang mempunyai angkatan laut yang kuat. Kerajaan itu melakukan ekspansi dan penetrasi budaya. Kekuasaanya meliputi sumatera, Maluku, dan luar ruang. Puncak kecemerlangan majapahit dalam masa rezim Hayam Wuruk dibantu Pion Mada. Di dalamnya memiliki sumpah palapa yang ada dalam kitab pararaton.
3. Gowa
Peluang sebelum Tumanurung
- Ada 4 raja
- Terbagi 9 semesta kecil di dalam kerajaan Gowa
- Soalnya memiliki otonomi Negara seorang diri, Negara itu saling berpasangan
Masa Tumanurung
- Dipilihlah pemimpin dara bernama Tumanurung
- Dalam tahun 1320 kerajaan tersebut resmi berpanggilan Gowa
- Kerajaan gowa sempat terbagi menjadi 2 yaitu utara dan selatan
- Di dalam masa pemerintahan raja ke-9, gowa terjadi meruntuhkan pihak berkuasa talo dengan demikian berubah sebutan menjadi Gowa Talo.
Kemajuan Kerajaan Gowa
- Tercipta pada kala ke 16
- Somba Opu sejajar pusat negeri, dan menghasilkan dermaga maka itu ekonomi berkembang dengan pesat
- Dibangun benteng somba opu
Islamisasi Kerajaan Gowa
- Islam awalnya turun oleh negeri Gowa Talo
- Jangka perang negara lain kalah dan walhasil menerima agama islam
Zaman Keemasan
- Adipati ke 16 memimpin
- Terkenal secara bandara Intersional
Masa Pelemahan
- Belanda muncul serta mengadakan perang tetapi kalah
- Negara saat itu dipimpin Tuan Hasanuddin
- Kerajaan Bone bergabung secara Belanda dan akhirnya pemerintahan Gowa roboh
- Tidak sedikit pahlawan yang wafat
- Perjanjian bongaya yang isinya seluruh resep diberikan lawan belanda

Sistem Nilai Histori dalam Kontek pembangunan kontinen maritime
1. Teknologi Perkapalan: pada peluang sriwijaya, kulit besar sudah digunakan dalam berlayar
2. Angkatan Laut: AL sudahh digunakan bagi menjaga sbilitas kerajaan
3. Navigasi: Trik pelayaran sudah menggunakan instrumen deteksi.
4. Tradisi Kemaritiman: Doa & sesajen untuk kapal trendi
5. Metropolitan dan Bangsa: terbuka nampi unsure luar
6. Lembut Budaya Maritim: Candi yang melukiskan kapal dan perahu

Kasus:
- Sipadan dan Ligitan (sengketa Indonesia dan Malaysia)
- Perairan Ambalat (Sudah 3 tahun belum terselesaikan)

Kelompok 2B

Ilmu sejarah Perkembangan Patokan Laut

Wilayah pesisir hanya dapat menyimpan laut dg batas 3 mil daripada garis pantainya.
- Res Nulius: samudra tidak ada yang miliki
- Res Communis: Laut adalah milik jagat
Diadakan musyawarah hokum laut untuk menjadikan batas-batas marine

Hukum Samudra Indonesia
- Deklarasi Djoenda
- UU no. 6 thn 1996
- Deklarasi benua maritime Indonesia di Makassar
- Deklarasi Bunaken
- Sidang Gotong Royong
- Seruan Sunda Kelapa
- UU Pokok Sungai
Hukum Samudra Internasional
- Pasal 5 UU no. 6 thn 1996
- Laut territorial
- Gara-gara UNCLOS 1982
- Perkara 19 Pembahasan
- Gara-gara 10 UU no. 6 thn 1996
Upaya serta Strategi mempertahankan NKRI adalah dengan menyembunyikan mercusuar di karang unarang, membangun darat penjaga & pos tuyul, membangun daratan buatan, diplomasi langsung menemani pemerintah, pemberdayaan pulau cupet terluar, pencegahan dan perlindungan kawasan laut terpadu.

Suara Kelompok 3A dan 3B
“Masyarakat Maritim”

Keragaman alias kemajemukan suku terjadi sebab unsur-unsur laksana ras, etnik, agama, pekerjaan, penghasilan, tuntunan, dan sebagainya. Rumpun Indonesia merupakan masyarakat yang multikultural memiliki arti memiliki besar budaya. Kesadaran akan multiplisitas bangsa ini sesungguhnya sudah tercermin dengan baik oleh semboyan golongan kita, yaitu Bhineka Unik Ika.
Bentuk – macam masyarakat maritime yaitu:
1. Masyarakat maritime Pasuruan
Sejak lama mendayagunakan sumberdaya bahari yang berkecukupan disekitar wilayahnya sebagai teritori hidup & mencari roh
2. Masyarakat maritime Kepulauan Riau
Daerah ini ada sumberdaya maritim yang mengacu pada pontensial sanggup diandalkan untuk menopang kesejateraan masyarakat marine dan bangsa pada umumnya
3. Warga maritime Terkatung-katung Barat
Berparadigma pembangunannya dengan melakukan regenerasi yang berisi semangat desentralisasi, berpola perembukan wilayah, beserta berorientasi pada pengembangan keberhasilan komperatif & keunggulan kompetitif.
4. Rumpun maritime Banten Barat
Hati sumberdaya bahari yang ”common property” serta ”open access” membentuk kriteria sosial pranata masyarakat maritim yang khas dan relatif berbeda dengan masyarakat pedesaan lainnya (terrestrial villagers)
5. Masyarakat maritime Lombok Timur
Penghidupan masyarakat di daerah ini lebih banyak mengandalkan perikanan, disamping sektor-sektor lainnya, laksana pertambangan, industri, perdagangan, perhotelan dan warung makan, transportasi, perbankan dan jasa-jasa lainnya.

Tajuk Kelompok 4A dan 4B
“Kelembagaan Masyarakat Maritim”
Keluarga 4A
Peraturan adalah proses-proses terstruktur (tersusun) untuk menjalankan berbagai kegiatan tertentu (Horton and Hunt, 1993: 244). Selanjutnya disebut lembaga tergolong di antara norma-norma masyarakat yang paling ritualistis dan bersifat memaksa, serta ketika kelaziman dan tata nilai dalam sekitar suatu kegiatan yang penting menjadi terorganisasi ke dalam komposisi keyakinan dan perilaku yang sangat lugu dan mengikat, maka suatu lembaga telah berkembang.
Jenis2 Kelembagaan:
- Kelembagaan Ketatanegaraan
- Kelembagaan Kekerabatan
- Kelembagaan Agama/Kepercayaan
- Kelembagaan Ekonomi
Kelembagaan Tradisional:
1. Sasi
Sasi dapat diartikan sebagai restriksi untuk menangkap hasil sumberdaya alam unik sebagai upaya pelestarian karena menjaga mutu dan masyarakat sumberdaya hayati (hewani maupun nabati) bumi tersebut
2. Ponggawa Sawi
Ponggawa-sawi yang merupakan suatu bentuk organisasi sosial yang telah mapan pada kalangan warga Bugis, Makassar.

Kelompok 4B
Kemiskinan yaitu masalah yang multidimensional sehingga pendekatan untuk mengentaskan kesukaran juga mesti multidimensional. Dalam hal menanggulangi kemiskinan kaum nelayan, Setidaknya perlu mengagas dan menjelmakan harapan akan perkuatan bidang kelautan mulai semua bagian. Mulai dari gazetteer pulau, pemetaan wilayah terkini, penegasan tapal batas, perkuatan pasukan pertahanan lautan (penambahan total kapal patroli laut sampai jumlah ideal), pengembangan serta kawal selalu pulau-pulau terluar, penertiban zona tangkapan ikan dan aktivitas kelautan unik, sampai teka-teki penyelamatan komunitas perairan. Tersebut juga dikategorikan perkuatan sektor perikanan, turnamen nasib nelayan lokal (dalam negeri), penegasan dan penegakan hukum sungai dan maritim, sampai pemanfaatan berkelanjutan potensi laut yang ramah daerah sekeliling. Begitu tidak sedikit “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan Nusantara untuk mampu tegar satria sebagai satu negara maritim terbesar globe.
Dengan demikian mengatasi kekurangan nelayan sewajarnya harus diawali dengan adanya data saksama statistik. Lalu kemudian ditindaklanjuti menggoleng apa penyebab dari kemiskinan tersebut, apakah karena umpan utang atau faktor beda. Kemudian cara atau ragam untuk menaggulanginya lebih terfokus, pada nelayan-nelayan yang berkecukupan pada subordinasi tokeh. Bagaimanpun juga jika penyebab kesusahan tidaklah tentu disemua lokasi, bahkan ukurannyapun bisa berbeda-beda atau terserah kondisi tempatan. Sehingga rahasia pengentasan kemiskinanpun tidak mampu digeneralisir di semua lokasi atau seluruh sektor. Kesukaran yang dialami oleh nelayan tidak dapat disamamakan beserta ukuran kemiskinan buruh dalam perkotaan. Lebih dari itu dalam suatu di kota yang sama belum tentu bisa diratakan ukuranya pada desa-desa pesisir yang ada. Agenda pengentasan kesukaran nelayan memerlukan strategi luar biasa yang siap menjawab realitas yang tercipta hari ini. Hiburan sosial Selain hal itu, peranan norma juga sebagai sangat primer untuk mensejahterakan para nelayan.

Kesimpulan Famili 5A & 5B
“Dinamika Kehidupan Supel Budaya Bahari”

Kelompok 5A
Sistem prestise budaya, perbuatan kolektivitas, serta perilaku tradisi kebaharian tersebut tumbuh lulus sebagai reproduksi dari pengalaman berinteraksi secara laut, pekerjaan berat serta rumit, gertakan bahaya serta ketidakmenentuan, lingkungan sosial pikiran masyarakat pengguna sumberdaya dan jasa laut yang lain, pemerintah, pasar, dan sebagainya. Nilai-nilai tradisi yang mendalam dalam rumpun bahari tersebut perlu diimput dengan rekayasa nilai-nilai integratif, asimilatif, futuralistik, dan fleksibel (input values) yang terkandung dalam wawasan Universitas Hasanuddin (“Unhas setaraf pusat penjelasan budaya bahari”) yang hendak menjelmakan nilai-nilai budaya bahri yang holistik, interkonektif, serta mandiri (output values) untuk menjadi pola sekaligus tujuan pengembangan tradisi bahari pada masa menempel.

Kelompok 5B

1. Bermacam-macam desa nelayan di daerah timur Indonesia lainnya, motorisasi perahu dan kapal pengertian ikan dalam desa-desa nelayan Sulawesi Daksina baru semenjak di tahun-tahun 1970-an.
2. Perkembangan Usaha dan Teknologi Perikanan Samudra yaitu Gae, Bagang, Usaha pancing tongkol, Usaha lobster dan ikan hidup, danKompresor.
3. Contoh hubungan (struktur sosial) yang menandai hubungan dalam kelompok P. Sawi baik dalam bentuknya yang elementer (P. Laut/Juragan-Sawi) ataupun bentuk kian kompleks (P. Darat/P. Lompo-P. Laut/Juragan-Sawi) adalah hubungan patron-client.
4. Kultur atau globe kehidupan manusia tersebut sekurang-kurangnya meliputi tujuh unsur sudah tidak asing lagi (cultural universal), yakni pesiaran (cognitive/ideational/mental material), bahasa, wadah sosial, per-ekonomian, teknologi, kesenian, religi serta kepercayaan.
5. Kelestarian sumber daya, khususnya sumber daya laut adalah sesuatu yang sangat fisis, oleh karena itu kelestariannya harus dipelihara.

Kesimpulan Famili 6A & 6B
“Pembangunan Benua Bahari (IPTEKS BAHARI)”

Kelompok 6A
Lautan adalah bagian tertinggi wilayah RI dan adalah factor terpenting yang kudu dikelola dengan baik jimat mewujudkan rencana – niat nasional. Pengelolaan aktivitas pembangunan laut mesti bersifat terintegrasi.
Salah satu pembeda utama antara kebudayaan warga maritime dan darat yang sekaligus menajdi keunikan mendorong ialah kepelikan tipe/bentuk & variasi teknologi digunakan. Kepelikan tipe dan variasi teknologi yang digunakan.
Kendala Biasa dalam Pemanfaatan Wilayah Nusantara
• derajat tenaga kerja dalam pendayagunaan dan peladangan laut masih kurang
• dalam pemanfaatan laut sebagi sumber benih baku dan sumber energy adalah kurangnya tenaga pandai dan terampil yang bisa mengeksploitasi & mengeksplorasi sumber- sumber itu di dalam, disamping masalah permodalannya
• belum meratanya kesabaran industri
• terbatasnya perlengkapan untuk penjagaan dan kesentosaan di samudra.
• sekalian potensi sumberdaya yang ditemui di ZEEI yang wewenang pengelolaannya diberikan kepada Indonesia belum sanggup diketahui berdasar pada pasti, apalagi dimanfaatkan setaraf sumber pambangunan.

Kelompok 6B
1. Benua Maritim Indonesia (BMI) diartikan sebagai wilayah perairan dengan landasan pulau – pulau didalamnya, sebagai satu kesatuan sebenarnya antara daratan, laut & udara di atasnya rapi unik secara sudut ranggul iklim dan cuaca hal ihwal airnya, tatanan kerak globe, keragaman biota serta tatanan sosial tradisi.
Terdapat lima aspek yang dapat jadi modal utama dalam menongkat penguatan penyusunan negara maritim modern pada Indonesia, adalah:
· Penyungguhan pemahaman tentang wawasan maritime
· Penegakan kedaulatan yang nyata pada laut
· Pembangunan industri maritim
· Meletakkan pentingnya penataan celah wilayah maritime
· Penegakan sistem pedoman maritim
3. Untuk mendukung pemanfaatan potensi sumberdaya maritim maka telak diperlukan IPTEK, yang harus pula dibantu oleh studi yang teratur dan tetap. Pembangunan maritim sekarang berikut antara beda mencakup:
1. Capture Fisheries and Aquaculture
2. Nautikal Biotechnology
3. nonliving Resources
4. Nautikal Transportation
5. Sea Territory
6. Small Island Development
Dalam bagan pengembangan sumberdaya kelautan dimasa depan, dipastikan titik puncak pemanfaatan bakal dicapai bila pengembangan dan pemanfaatannya meperhatikan 3 sesuatu yaitu, pengembangan IPTEK Maritim dan perikanan, Industri perikanan dan maritim serta admistrasi dan managemennya.
Contoh pemanfaatan IPTEK pada Lingkungan Antik (Teknologi Pengertian Ikan) Adanya teknologi laksana Inderaja & Fishfinder.